Kata Pakar Keuangan, P2P Lending Sangat Cocok bagi Generasi Milenial yang Mau Mengembangkan Uangnya!

Pada prinsipnya, setiap orang harus bisa cerdas dalam mengelola keuangannya, tak terkecuali generasi milenial yang notabene masih muda. Sebagai generasi yang hidup di era digital, kaum milenial diharapkan bisa menggunakan teknologi dalam hal merencanakan keuangan agar bisa meraih kebebasan finansial di kemudian hari.

Beberapa waktu lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan bahwa generasi milenial mendominasi jumlah Lender alias Pemberi Pinjaman di industri Fintech Peer to Peer (P2P) Lending. Berdasarkan data mereka, Lender dari kaum milenial usia 19-34 tahun adalah sebanyak 69,53% per April 2019, sedangkan yang usianya 35-54 tahun sebanyak 27,26%.

Hendrikus Passagi dari OJK mengatakan, Indonesia adalah target pasar yang menggiurkan untuk kegiatan P2P Lending. Menurutnya, industri ini sudah tumbuh pesat berdasarkan total pinjaman dan pengguna dalam kurun waktu empat tahun terakhir.

Sebagai informasi, akumulasi pinjaman melalui P2P Lending hingga Mei 2019 tercatat sebesar Rp 41,04 triliun. Angka tersebut tumbuh 81,11% dibanding tahun sebelumnya yang cuma sebesar Rp 22,66 triliun.

See also  Perhatikan Baik-baik, Ciri Orang Sukses Tak Pernah Bawa Ponsel Waktu Rapat!

Dijelaskan Hendrikus, OJK akan terus meningkatkan kualitas Fintech P2P Lending melalui mekanisme check dan monitoring. “Salah satunya dengan mematok tingkat kredit bermasalah atau non  performance loan (NPL) di kisaran 1%,” tambahnya.

Kepala Bidang Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Tumbur Pardede menuturkan, industri P2P Lending tak selalu bicara soal Borrower alias orang yang meminjam dana, namun juga pihak Pendana yang memberikan pinjaman. Kata dia, Lender bisa diisi oleh generasi milenial yang mau mengembangkan dana.

Diungkapkan Tumbur, Fintech Lending bisa diakses hanya dengan gadget yang terhubung dengan internet. Karena itu, lanjut dia, pilihlah penyelenggara P2P Lending yang legal alias terdaftar atau berizin dari OJK. Demikian seperti dikutip dari laman Kontan.

See also  Cara Membuat Kartu Keluarga Online itu Mudah, ini Langkahnya!

Sementara itu, Perencana Keuangan dari Finansia Consulting Eko Endarto menyatakan bahwa P2P Lending bisa jadi sarana yang tepat bagi generasi milenial untuk berinvestasi. Meski begitu, kata dia, kaum milenial perlu memahami potensi keuangan, potensi keuntungan, serta segala jenis risiko yang bisa timbul akibat mengembangkan dana di P2P Lending.

“Satu hal yang tak kalah penting, generasi milenial juga harus memerhatikan legalitas, sebab Fintech di Tanah Air yang benar harus terdaftar di OJK,” jelasnya.

WASPADA FINTECH ILEGAL

Beberapa waktu lalu, Satuan Tugas Penanganan Dugaan Tindakan Melawan Hukum di Bidang Penghimpunan Dana Masyarakat dan Pengelolaan Investasi (Satgas Waspada Investasi) kembali menemukan 140 Fintech ilegal berdasarkan pemeriksaan pada website dan Google Playstore. Menurut data, satgas menemukan 404 entitas pada 2018 dan 683 entitas pada tahun 2019. jika ditotal, jumlahnya adalah mencapai 1000 lebih entitas.

See also  Sederet Nasehat dari Mark Cuban ini Bikin Kamu Cepat Kaya!

Nah, meski satgas sudah banyak menutup kegiatan ilegal tersebut, tapi sampai saat ini masih banyak saja yang bermunculan dan sangat meresahkan. Karena itu, satgas menyarankan agar masyarakat tidak mengakses atau menggunakan aplikasi Fintech ilegal.

Dikatakan Ketua Satgas Waspada Investasi  Tongam L. Tobing, masyarakat harus cerdas dalam memilih platform P2P Lending. “Apabila mau meminjam secara online, maka masyarakat harus melihat daftar aplikasi fintech Peer to Peer Lending yang sudah terdaftar pada website www.ojk.go.id,” pungkasnya.

Tongam juga menjelaskan bahwa satgas akan meminta Kementerian Komunikasi dan Informatika RI untuk memblokir website atau aplikasi Fintech yang tidak berizin OJK. Nggak cuma itu, satgas juga sudah meminta Bank Indonesia untuk melarang Fintech Payment System memfasilitasi Fintech ilegal serta menyampaikan kepada Polri untuk melakukan proses penegakan hukum.